Di Balik Collapse-nya Bank Century (Sebuah Analisis Learning Organization) Oleh Muntholi’ah dan Ratnanigsih

Mengamati perusahaan/organisasi yang bangkrut, kami tertarik untuk mengulas tentang bank Century yang mungkin di mata dan telinga pembaca sudah tidak asing lagi. Mengapa bank Century bisa mengalami kebangkrutan? Faktor apa saja yang menyebabkan?. Penulis akan coba mengulas sejauh kemampuan penulis menafsirkan berdasarkan sudut pandang Organisasi Belajar (Learning Organization) Penyelamatan bank Century pada 21 November 2008 tahun lalu (diakibatkan dampak krisis ekonomi global) oleh Pemerintah melalui Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Menurut Menkeu Sri Mulyani Indrawati ada 2 opsi: • Penyelamatan dengan suntikan dana memerlukan biaya 683 milyar. • Dibiarkan mati oleh pemerintah memerlukan dana 5 triliun. Menurut analisis menkeu, situasi saat penyelamatan bank Century dipengaruhi: 1. Muncul kebijakan “blanket guarantee” (pinjaman penuh simpanan di bank) di negara Australia, Malaysia, dan Singapura sehingga memicu penarikan dana dari bank-bank kecil ke bank besar di dalam negeri. 2. Keputusan pemerintah Amerika Serikat yang menolak penyelamatan Lehman Brothers yang bisa memicu penarikan dana dari bank-bank asing yang ada di Indonesia. 3. Alasan mendasar penyelamatan bank Century adalah untuk mencegah kejatuhan 23 bank kecil lain di Indonesia. Gejolak bank Century (gejolak dimana bank Century dianggap Default/Gagal) • Pemerintah melalui LPS menyuntik dana untuk merekap bank Century senilai 6,7 triliun. • DPR merasa dilangkahi pemerintah, karena pemerintah dan DPR hanya bersepakat mengeluarkan dana rekap sebesar 1,3 triliun. • Saat ini muncul dugaan dana rekap bank Century bukan hanya 6,7 triliun tetapi mencapai hingga 9 triliun. Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menyatakan keheranannya tentang kasus Bank Century. Karena banyak pihak mendesak agar kasus itu dibongkar lagi agar tuntas penyelesaiannya. “Apanya yang mau diselesaikan? Kasus ini tidak jelas,” kata Mahfud pada suatu kesempatan.

Kasus Bank Century, yang merugikan negara hingga Rp 6,7 triliun, menurutnya dinilai lebih banyak bermuatan politis. Ia lalu mengatakan, banyak pihak yang mendesak agar kasus tersebut dibuka lagi bukan bertujuan mengembalikan kerugian negara, tetapi untuk menjatuhkan seseorang. Mahfud juga menilai dihukumnya mantan pemilik bank Century, Robert Tantular memang bisa menjadi awal penyelesaian kasus ini. Namun, arah penyelesaian kasus ini hanya ingin menjatuhkan seseorang dari jabatannya. Mereka hanya membidik orang per orang, bukan menyelesaikan kasus ini secara tuntas,” bebernya. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang sangat diharapkan publik dapat mengungkap tuntas kasus ini, nyatanya sulit membuktikan adanya kerugian negara dalam kasus tersebut. Mahfud pun berharap, Ketua KPK berani membuat gebrakan baru demi menyelesaikan kasus ini. Jika memang ada kerugian negara, maka KPK harus menuntaskannya, dan jika ternyata hasil penyelidikan KPK tidak menemukan kerugian negara, maka tetap harus diumumkan ke publik. “Tidak seperti sekarang yang simpang siur, sehingga dimanfaatkan pihak tertentu untuk menyudutkan orang tertentu demi kepentingannya,” ujarnya. “KPK harus tegas mengumumkan posisi kasus ini. Ini tugas pimpinan KPK yang baru,” pungkas Mahfud MD. Sementara itu, Iman Sugema mengatakan, kolapsnya bank Century berawal dari gagal bayar discretionary fund Antaboga yang dipasarkan melalui bank Century. Sejak itu, kepercayaan nasabah runtuh dan mereka ramai-ramai menarik dana dari bank, sehingga bank tersebut kolaps. “Kasus Century merupakan kesalahan berjamaah,” kata dia. Tak hanya Bank Indonesia (BI), Menteri Keuangan, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), dan LPS yang “berdosa” karena memutuskan penyelamatan bank tersebut sehingga berpotensi merugikan negara triliunan rupiah, tetapi juga Bapepam-LK. Sebab, kolapsnya bank Century berawal dari lemahnya pengawasan Bapepam-LK atas manajer investasi, yakni PT Antaboga Delta Sekuritas. Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany mengatakan, penjualan produk investasi oleh Antaboga Delta Sekuritas melalui bank Century bukan merupakan tanggung jawab otoritas pasar modal. Pasalnya, produk tersebut diperjualbelikan di bank Century dan bukan Antaboga. “Jadi ini bukan tanggungjawab Bapepam-LK,” kata. Menurut Fuad, produk yang dijual Antaboga tersebut bukanlah produk reksa dana melainkan discretionary fund. Produk tersebut juga bukan merupakan produk investasi yang pernah mendapat peringatan dari Bapepam-LK pada tahun 2005. Menurutnya, produk investasi yang telah menampung dana sebesar Rp 1,4 triliun dan diperjuabelikan di bank Century merupakan produk palsu. Fuad mengaku pihaknya tidak dapat memproteksi nasabah bank Century, karena otoritas pasar modal hanya melindungi para pemegang saham perseroan. “Kami sudah melakukan semuanya, laporan keuangan, dan pelaporan aksi korporasi ataupun suspensi ketika ada masalah,” Pada awal-awal pertumbuhan dan perkembangannya bank Century cukup eksis, dengan membawa paradigma embel-embel “bank penyelamat” serta kompetiter yang masih sedikit, bank Century menjadi salah satu bank swasta nasional yang ratingnya cukup diperhitungkan. Aktifitas perbankan yang membawa misi penyelamat keuangan negara dan rakyat masih nampak konsisten. Walaupun pada akhirnya beberapa genre kegiatanya mulai sedikit menyimpang dari idealisme visi perbankan nasional.

Dengan mengamati berbagai faktor yang menyebabkan kolapnya bank Century program-program yang telah dapliaksikan bank Century kurang lebih 10 tahun dalam sehari ternyata masih banyak programnya yang melenceng dari visi dan misi bank Century itu sendiri. Seperti diketahui bahwa sejatinya sebagai sebuah organisasi, tak hanya organisasi perbankan saja tentunya, harus terus berusaha mewujudkan visi dan misinya seperti uraian di atas. Selain itu pemilihan slogan bank Century sebagai bank penyelamat kolapnya bak bank kecil (MERGERISASI) adalah kalimat yang dijadikan sebagai identitas keberadaan sebuah organisasi, sekaligus sebagai “trademark” dari organisasi tersebut juga harus sungguh-sungguh direalisasikan. Mengingat slogan merupakan kalimat yang paling diingat oleh masyarakat sebagai identitas keberadaan sebuah organisasi. Ini berarti bahwa bank Century dianggap gagal merepresentasikan visi, misi dan slogannya dalam aktivitas perbankan yang dilakukan. Bank ini terlihat tidak konsisten dengan apa yang telah mereka sepakati sebagai prinsip kerja mereka, yaitu visi dan misi tersebut. Masih kurangnya keterbukaan/transparansi serta dialog dalam menjalankan dunia perbankan yang diamanahkan oleh negara. Banyaknya hal-hal yang sama sekali tidak memotivasi dan memberikan kepuasan bagi masyarakat, lebih-lebih membahayakan bagi perkembangan masyarakat ke depannya nanti, bukannya memajukan masyarakat Indonesia.

Menurut hasil analisa kami (penulis) tentang kenapa bank Century sampai mengalami kondisi parah sampai-sampai harus diselamatkan adalah sebagai berikut: • Penyebab utama yang paling jelas adalah adanya tindakan kriminal perampokan bank Century oleh pemiliknya sendiri yaitu Robert Tantular yang saat ini menjadi terpidana. Ada hal lain yang harus kita awasi terus, yaitu penyitaan aset Robert Tantular, untuk memastikan bahwa aset-aset tersebut benar-benar kembali ke negara. Ini PR buat teman-teman Kompasianer. • Dari penyebab utama tersebut lalu muncul lah pertanyaan-pertanyaan logis seperti berikut: Kenapa BI bisa tidak tahu?, Memangnya kasus bank Century langsung terjadi seperti sekarang tanpa ada tahapan-tahapan eskalasi masalahnya sehingga BI tidak bisa mengetahuinya? atau pertanyaan yang mungkin lebih sadis lagi adalah: Memangnya kerja BI selama ini bagaimana? Dari pendapat-pendapat yang berkembang, ada 2 isu yang menarik untuk diperhatikan tentang penyebab tidak bisa dicegahnya kasus bank Century. Apakah Pengawasan BI yang lemah? Pertama, adalah “lemahnya pengawasan BI”. Pendapat seperti itu, salah satunya disuarakan oleh Jusuf Kala. Tentu saja maksud dari pendapat tersebut adalah bahwa seharusnya tidak mungkin BI tidak mengetahuinya karena peristiwa tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba. Gejalanya pasti sudah ada ketika masalah tersebut secara bertahap membesar menjadi seperti sekarang ini. Memang benar manipulasi selalu bisa terjadi sekalipun ada pengawasan yang ketat. Mengingat kasus bank Century tidak terjadi dalam sekejap mata. Pertanyaan yang sesungguhnya adalah apakah pengawasan BI juga tidak bisa menangkap gejala yang ada ketika permasalahan tersebut mengalami eskalasi secara bertahap sampai kondisi yang sekarang ini? Pertanyaan itulah yang seharusnya dipertanggungjawabkan secara profesional oleh Direktorat Pengawasan Bank Indonesia. Pertanyaan itu seharusnya disikapi dengan root cause analysis untuk dilakukan, jika perlu, re-engineering filosofi, paradigma, strategi, pendekatan, sistem dan mekanisme proses kerja pengawasan perbankan yang dilakukan oleh BI.

Kesadaran terhadap kebutuhan root-cause analysis untuk penyempurnaan ini seharusnya ada dibenak pejabat BI yang lebih tinggi sehingga usaha penyempurnaan yang efektif memang dapat menghasilkan penyempurnaan yang nyata dan tidak hanya sekedar di atas kertas. Kita tidak bisa berlindung pada sistem dan prosedur jika ternyata kita ‘kecolongan’. Ada yang salah pada sistem dan prosedur pengawasan sehingga kita tidak bisa menemukan suatu sistem dan prosedur pengawasan yang baik, serta tindak lanjut yang efektif dan segera terhadap hal-hal yang ditemukan. Tidak ada gunanya memberikan status comply sementara substansi permasalahan yang sesungguhnya tidak terungkap karena tidak diamati dan diteliti dengan memadai. Sudah bosan rasanya mendengar ’sudah comply’ tetapi tetap ada banyak masalah dan status tersebut tidak bisa mendorong pertumbuhan yang sesungguhnya. Beginilah nasib negara ini yang selalu terpaku pada compliance yang normatif. Hasil nyatanya hanyalah kesusahan pada rakyat saja. Ketidakefektifan pengawasan tersebut menimbulkan pertanyaan selanjutnya yaitu: Mungkinkah tidak ada mekanisme peer review terhadap sistem dan mekanisme pengawasan BI tersebut? atau mungkin sudah ada, tetapi tidak efektif. Peer review dapat dilakukan oleh pihak ketiga yang independen. Jika ternyata sistem dan proses kerja pengawasan yang dilaksanakan memang sudah berhasil menemukan gejala-gejala masalah yang terjadi pada bank Century maka pertanyaan berikutnya adalah: Mengapa BI tidak menyikapinya dengan suatu keputusan yang bersifat mencegah permasalahan menjadi berkembang luas? Pada tulisan Kompas bertajuk “Bank Nakal Jangan Dibantu” 2 September 2009, Drajat mengatakan bahwa “Kesalahan BI bukanlah terletak pada lemahnya pengawasan, tetapi lebih pada tiadanya keberanian untuk menghukum atau mengambil tindakan tegas.“ Mengenai adanya eskalasi masalah bank Century kita bisa mengikuti pendapat Drajat Wibowo: ”Ada tiga kesempatan di mana seharusnya bank tersebut ditutup, Menurut Dradjad, BI pada tahun 2003 telah mengetahui ketidak beresan bank CIC (yang lalu bersama Bank Danpac dan Bank Pikko merger menjadi bank Century tahun 2004) dengan indikasi adanya surat-surat berharga (SSB) valas sekitar Rp 2 triliun yang tidak memiliki peringkat, berjangka panjang, berbunga rendah, dan sulit dijual. SSB valas yang berpotensi bodong sebenarnya tidak boleh dibeli bank. Keberadaan SSB valas tersebut hanya untuk menyelamatkan neraca bank, yang sejatinya sudah kolaps. Ada indikasi penipuan yang dilakukan pemegang saham. Saat itu BI tidak tegas untuk tidak mengakui SSB valas tersebut. Sebagai solusi, BI malah menyarankan merger. Pasca merger, ternyata SSB valas itu masih bercokol di neraca bank Century. Instruksi BI agar SSB valas itu dijual ternyata tak bisa dilakukan pemegang saham. ”Saat itu BI sebetulnya kembali punya kesempatan untuk menutup Century, tetapi itu tak juga dilakukan,” katanya. Solusi permasalahan saat itu adalah pembuatan asset management agreement di mana pemegang saham menjamin SSB valas tersebut dengan deposito di bank Dresdner, Swiss, yang belakangan ternyata sulit ditagih. Saat Bank Century akhirnya benar-benar kolaps akibat kekurangan likuiditas dan pemburukan aset tahun 2008, ternyata BI kembali menyelamatkannya dengan alasan sistemik. Jadi menurut penulis, masalah sesungguhnya adalah pada pengambilan keputusan. Tentu saja pengambilan keputusan yang efektif itu haruslah CEPAT dan sekaligus TEPAT karena menggunakan metode dan pendekatan (baca: analisis cost, benefit dan risiko) yang dapat dipertanggungjawabkan. Bagaimanapun karakteristik kepribadian dan perilaku seseorang tidak boleh mengorbankan persaratan pengambilan keputusan yang efekti dalam suatu organisasif. Seseorang harus bisa merubah kualifikasi dirinya untuk menjadi seorang personality Masteri dalam pengambil keputusan yang efektif jika dia menjadi seorang staff atau pemimpin, dimana organisasi itu berada. Game utama seorang anggota organisasi adalah pengambilan keputusan yang efektif. Semakin tinggi tingkatan kepemimpinannya maka semakin kompleks dan kebutuhan keputusan yang segera dan tepat menjadi kata kuncinya. Bank Century sudah mulai nampak dari ketidakberdayaan pengelolaan mengantisipasi cepatnya persaingan antara sesama kompetiter. Munculnya beberapa Bank swasta baru, baik secara nasional, International luar yang lebih transparan dan professional model kerjanya membuat bank Century kalah bersaing untuk memperebutkan simpati pasar yang merupakan modal pokok dalam bisnis perbankan.

Ditambah lagi dengan adanya kisruh kepemilikan rekening gendut, nasabah fiktif. Sehingga rating bank Century dalam semua program yang disajikan mengalami penurunan simpati serta kepercayaan dari para nasabah, serta tidak lagi berlabel penyelamat uang negara dan rakyat tapi menjadi gurita yang selalu siap menilep uang negara maupaun rakyat dengan berbagai dalih yang fiktif. Jika dianalisis lebih dalam dari kacamata learning organization (LO), maka bank Century merupakan sebuah organisasi yang tidak siap dengan kemampuannya untuk mempertahankan diri menghadapi perubahan dan amanat zaman. Pada awal kehadirannya bank century cukup baik, tetapi kemampuan yang dimiliki tidak dilakukan pengembangan secara terus menerus untuk dipertahankan. Hal ini berbanding terbalik dengan keadaan ekstern perusahaan perbankan yang perkembangannya jauh lebih cepat dari kondisi intern perbankan di bank Century. Bank Century tidak melakukan pembelajaran, baik secara individu maupun kelompok untuk mengadopsi dan menyesuaikan diri dalam mempertahankan program-program perbankan maupun mengelola kelangsungan dunia perbankan. Akibatnya, bank Century collapse kalah bersaing dengan bank bank swasta lain yang jauh lebih inovatif, kreatif dan mau melakukan proses pembelajaran seiring dengan perkembangan dan amanah zaman. Keterlambatan bank Century melakukan proses berpikir guna mengatisipasi perkembangan zaman membuat blunder yang mengakibatkan collapse-nya dunia perbankan. Bank Century tidak melakukan usaha pembelajaran untuk mengembangkan apa yang disebut Peter Senge sebagai The Fifth Decipline yang ada. Century seperti berjalan stagnan. Beberapa unsur potensial yang dimiliki akhirnya beralih atau berpindah ke bank swasta lain. Ini semua adalah sebagai akibat dari ketidakmampua bank Century untuk melakukan pembelajaran dalam mempertahankan hidup di dunia perbankan. Kesimpulannya, bahwa sebuah organisasi dalan hal ini khususnya bank Century adalah wajib melakukan proses penyesuaian diri secara terus menerus mengatisipasi perubahan dan amanat zaman. Perbankan di Century harus survive dengan segala keadaan yang muncul dan harus mampu menjadi Agent of Changes dalam keadaan apapun kondisi yang terjadi, maka bank century sebagai suatu organisasi mampu bertahan. Di samping itu, organisasi harus dapat menyesuaikan diri dengan terus belajar dengan cara mengembangkan kemampuan yang masih tersimpan atau kemampuaan yang secara eksplisit telah dimiliki atau dalam idtilah knowledge management disebut tacit dan eksplicit knowledge yang dimiliki, baik secara indivisu maupun kelompok untuk mencapai tujuan organisasi dalam dunia perbankan. Sebagai kesimpulan akhir beradasar data dan fakta serta analisa dari sudut pandang Learning organizatioan/Organisasi balajar, faktor penyebab collapse-nya bank Century, sebagai berikut: 1. takut mengambil resiko, terlena dengan dukungan pemerintah 2. cenderung tidak fleksibel dalam mengembangkan budaya belajar dan mencari inovasi terbaik guna mengembangkan specialis produk yang dimiliki. 3. mengisolasi diri dari percaturan dunia perbankan 4. beranggapan tidak terjadi kesalahan apa apa dalam organisasinya (terlalu percaya diri dan senag mencari kambing hitam) 5. bermain-main dengan garis batas pelanggaran