Learning Organization (Organisasi Pembelajar)
Organisasi belajar atau organisasi pembelajaran adalah suatu konsep dimana organisasi dianggap mampu untuk terus menerus melakukan proses pembelajaran mandiri (self leraning) sehingga organisasi tersebut memiliki ‘kecepatan berpikir dan bertindak’ dalam merespon beragam perubahan yang muncul. Menurut Senge (1990), organisasi belajar adalah organisasi dimana anggota-anggotanya terus-menerus mengembangkan kapasitasnya guna menciptakan hasil yang benar-benar mereka inginkan, dimana pola-pola berpikir baru dan berkembang dipupuk, dimana aspirasi kelompok diberi kebebasan, dan anggota-anggotanya secara terus menerus belajar mempelajari (learning to learn) sesuatu secara bersama. Jadi dalam sebuah organisasi yang memiliki kinerja dan tujuan, didalamnya pasti memiliki hubungan dan proses yang diusahakan berkesinambungan(system thinking) antara anggota dengan anggota, anggota dengan tim, dan antar tim.
Pedler, Boydell dan Burgoyne mendefinisikan bahwa organisasi pembelajaran adalah “Sebuah organisasi yang memfasilitasi pembelajaran dari seluruh anggotanya dan secara terus menerus mentransformasikan diri”. Menurut Lundberg (dalam Dale, 2003) menyatakan bahwa pembelajaran adalah “suatu kegiatan bertujuan yang diarahkan pada pemerolehan dan pengembangan keterampilan dan pengetahuan serta aplikasinya”. Menurut Kerka (1995) yang paling konseptual dari learning organization adalah asumsi bahwa ‘belajar itu penting’, berkelanjutan, dan lebih efektif ketika dibagikan dan bahwa setiap pengalaman adalah suatu kesempatan untuk belajar.


Kerka menyatakan, lima disiplin yang diidentifikasikan Senge adalah kunci untuk mencapai organisasi jenis ini. Senge juga menekankan pentingnya dialog dalam organisasi, khususnya dengan memperhatikan pada disiplin belajar tim (team learning). Maka dialog merupakan salah satu ciri dari setiap pembicaraan sesungguhnya dimana setiap orang membuka dirinya terhadap yang lain, benar-benar menerima sudut pandangnya sebagai pertimbangan berharga dan memasuki yang lain dalam batasan bahwa dia mengerti tidak sebagai individu secara khusus, namun isi pembicaraannya. Tujuannya bukan memenangkan argumen melainkan untuk pengertian lebih lanjut. Belajar tim (team learning) memerlukan kapasitas anggota kelompok untuk mencabut asumsi dan mesu ke dalam pola “berfikir bersama” yang sesungguhnya. [Senge. 1990]

Mengapa harus Organisasi Belajar ?
Awalnya perusahaan berupaya memperbaiki produk, pelayanan, dan inovasinya melalui “continues improvement” dan “breakthrough strategies”. Cari ini menghasilkan konsep yang dikenal dengan nama Total Quality Management (TQM) dan Business Process Reengineering). Namun perusahaan menemukan fakta bahwa kegagalan atau juga keberhasilan program-program tadi sangat ditentukan oleh faktor manusia (human factors) seperti: ketrampilan, sikap dan budaya organisasi.

Kleiner penyusun buku Fifth Discipline Field book mengutarakan bahwa gagasan organisasi belajar disebar luaskan untuk:
–    mencapai kinerja tinggi dan memenangkan persaingan
–    hubungan dengan pelanggan lebih baik
–    menghindari penurunan
–    memperbaiki kualitas
–    memunculkan inovasi
–    memenuhi kebutuhan pribadi dan spiritual
–    meningkatkan kemampuan kita dalam mengelola perubahan
–    bisa saling memahami
–    memperluas batasan-batasan
–    memperoleh kebebasan
–    menghargai saling ketergantungan

Komentar lain tentang organisasi belajar adalah:
–    lebih menyenangkan (fun) bekerja pada organisasi yang menerapkan konsep organisasi belajar
–    organisasi belajar memberikan harapan kepada anggotanya untuk memperoleh hasil yang lebih baik
–    organisasi belajar merupakan tempat bermain bagi gagasan kreatif
–    organisasi belajar merupakan tempat aman untuk berani mengambil resiko dengan gagasan dan perilaku baru.
–    Dalam organisasi belajar setiap pendapat anggota dihargai dan siapapun bisa berpendapat, tanpa dibatasi oleh posisinya dalam organisasi

Tipe-tipe Pembelajaran
Organisasi Belajar lebih dari sekedar pelatihan (training). Pelatihan membantu seseorang mengembangkan ketrampilan dalam bidang tertentu, sedangkan organisasi belajar mengembangkan ketrampilan dan pengetahuan pada tingkat yang lebih tinggi. Ada 4 tipe pembelajaran yang dikembangkan dalam organisasi belajar.
1.    Mempelajari fakta-fakta, pengetahuan, proses, dan prosedur. Diaplikasikan pada situasi buruk yang telah diketahui.
2.    Mempelajari ketrampilan kerja baru yang bisa ditransfer ke situasi lain. Diaplikasikan pada situasi baru yang memerlukan perubahan. Membawa pakar dari luar organisasi merupakan cara yang bermanfaat.
3.    Belajar beradaptasi. Diaplikasikan pada situasi yang lebih dinamis, di mana perlu dikembangkan cara pemecahan masalah. Percobaan (eksperimen), dan menarik pelajaran dari kegagalan dan keberhasilan organisasi lain merupakan cara pembelajaran yang tepat.
4.    Belajar mempelajari sesuatu. Di sini kita bicarakan inovasi dan kreativitas; merancang masa depan, tidak sekedar beradaptasi. Jika organisasi sudah mencapai tingkat ini maka yang dijadikan sasaran tidak hanya pada organisasi, melainkan juga pada semangat industrial.

Organisasi Belajar, belajar berinovasi secara terus menerus dengan cara menempatkan perhatian pada “lima komponen”. Memang, kelimanya tidak pernah bisa terkuasai, tetapi organisasi yang terbaik mempraktekannya secara konstan.
1.    System Thinking:  Orang dalam organisasi belajar bekerja dalam lingkungan sistemik. Jntung berpikir sistem adalah kesadaran akan keterkaitan dirinya dalam tim, keterkaitan tim dengan organisasi, keterkaitan organisasi dengan lingkungan yang lebih luas lagi.
2.    Personal Mastery: Dalam organisasi belajar, individu dan profesinya dipandang sebagai faktor yang krusial untuk membawa keberhasilan organisasi. Oleh karena itu individu tidak boleh berhenti belajar. Dia harus memiliki visi (mimpi) pribadi, harus kreatif, dan harus komit pada kebenaran.
3.    Mental Models: Respon atau perilaku kita atas lingkungan dipengaruhi oleh asumsi yang ada dalam pikiran kita tentang pekerjaan dan organisasi. Kognitif. Persoalannya muncul ketika mental kita terbatas atau bahkan tidak berfungsi, sehingga menghalangi  perkembangan organisasi. Dalam organisasi belajar model mental menjadi tidak terbatas, melainkan bebas dan selalu bisa berubah. Jika organisasi menginginkan berubah menjadi organisasi belajar maka harus bisa mengatasi ketakutan-ketakutan atau kecemasan-kecemasan untuk berpikir.
4.    Shared Vision: Tujuan, nilai, misi akan sangat berdampak pada perilaku dalam organisasi, jika dibagikan dan dipahami bersama, dan dimiliki oleh semua anggota organisasi. Gambaran masa depan organisasi merupakan juga mimpi-mimpi indah kelompok dan individu. Visi bersama akan menghasilkan komitmen yang kokoh dari individu ketimbang visi yang hanya datang dari atas.
5.    Team Learning: Tim senantiasa ada dalam setiap organisasi. Sebutannya bermacam-macam: departemen, unit, divisi, panitia, dan lain sebagainya. Seringkali seorang individu berfungsi di beberapa tim. Dalam organisasi individu harus mampu mendudukan dirinya dalam tim. Dia harus mampu berpikir bersama, berdialog, saling melengkapi, saling mengoreksi kesalahan. Individu melihat dirinya sendiri sebagai satu unit yang tidak bisa terpisahkan dari unit lain, dan saling tergantung.

Ciri-ciri Organisasi Belajar
–    Misi dan Visi Perusahaan dinyatakan dan dipahami secara luas oleh anggota organisasi
–    Mengalirkan Misi dan Visi ke Kelompok, Divisi, dan Depatemen.
–    Misi dan Visi perusahaan merupakan inspirasi yang membimbing kinerja setiap anggota organisasi
–    Menyediakan pelatihan berkesinambungan bagi setiap anggota di setiap tingkatan
–    Para manajer mengalirkan jenis-jenis pelatihan kepada para anak buahnya.
–    Mengembangkan budaya kerja dalam tim.
–    Memberdayakan pegawai agar mampu bekerja tanpa arahan langsung dari manajer, atau melaksanakan “continuous improvement” berdasarkan visi bersama.
–    Memelihara iklim keterbukaan
–    Mendorong eksperimen-eksperimen kerja dan keberanian mengambil resiko, dan mencegah saling menyalahkan.
–    Komunikasi terbuka agar semua pegawai “well-informed” – (tidak percaya pada rumor).
–    Memiliki mekanisme kesadaran untuk menyebarkan pengetahuan dan pemahaman
–    Keputusan diambil berdasarkan fakta
–    Di semua level, diajarkan dan diaplikasikan cara mendianosis, analisis, dan pengambilan keputusan
–    Konstan menilai pasar, pesaing, lingkungan, dan mengevaluasi ulang strategi-strateginya
–    Mencobakan gagasan baru, menyebarkannya jika berhasil, atau membuang dan memperbaikinya jika gagal.
–    Berinvestasi pada Litbang (R&D)
–    Sering memperkenalkan proses kerja baru, produk dan pelayanan baru
–    Secara konstan memperbaiki kapabilitas dan kinerja
–    Memahami klien atau pelanggan, dan berdialog dengan mereka secara berkesinambungan
–    Menetapkan tujuan yang jelas, dan yakin tujuan tersebut diketahui oleh semua orang
–    Mendorong semua pegawai untuk secara konstan menantang kondisi “status quo”
–    Mengurangi permainan politik dalam perusahaan
–    Menghargai, menghargai, menghargai
–    Memperpendek siklus waktu kerja di semua proses
–    Tidak memelihara sikap “berpuas diri”
–    Memiliki pegawai yang kepuasan kerja dan kebanggaan atas pekerjaan tinggi
–    Fokus pada pencegahan ketimbang perbaikan
–    Melibatkan setiap orang dalam “continuous improvement”