Organisasi belajar (Learning Organization) adalah organisasi yang dianggap mampu untuk terus menerus melakukan proses pembelajaran mandiri (self of learning) sehingga organisasi tersebut memiliki ‘kecepatan berpikir dan bertindak’ dalam merespon beragam perubahan yang muncul. Menurut Senge (1990), organisasi belajar adalah organisasi dimana anggota-anggotanya terus-menerus mengembangkan kapasitasnya guna menciptakan hasil yang benar-benar mereka inginkan, dimana pola-pola berpikir baru dan berkembang dipupuk, dimana aspirasi kelompok diberi kebebasan, dan anggota-anggotanya secara terus menerus belajar mempelajari (learning to learn) sesuatu secara bersama. Jadi dalam sebuah organisasi yang memiliki kinerja dan tujuan, didalamnya pasti memiliki hubungan dan proses yang diusahakan berkesinambungan (system thinking) antara anggota dengan anggota, anggota dengan tim, dan antar tim.

Visi jurusan matematika FMIPA UNJ adalah mewujudkan jurusan yang unggul dalam bidang matematikan dan pendidikan matematika yang lulusannya mampu bersaing secara global. Sedangkan misinya adalah sebagai berikut:

  1. Menyelenggarakan kegiatan pendidikan yang efektif, efisien dalam suasana akademik yang kondusif, bertanggung jawab, akuntabel, dan transparan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi pada bidang matematika dan pendidikan matematika. Berakhlak mulia dan mampu bersaing secara global.
  2. Menyelenggarakan kegiatan penelitian untuk pengembangan ilmu pendidikan matematika yang inovatif,  kreatif, dan aplikatif.
  3. Menyelenggarakan kegiatan pengabdian pada masyarakat dibidang matematika dan pendidikan matematika yang bermakna, menginspirasi, dan bermanfaat.
  4. Menjalin komunikasi dan kerjasama antar disiplin ilmu, lembaga pendidikan, lembaga pelatihan, pemerintah daerah, instansi lain, dan masyarakat luas untuk pengembangan dan kemajuan pendidikan matematiaka.

Hasil evaluasi mengenai organisasi belajar di jurusan matematika FMIPA UNJ, menunjukkan bahwa organisasi ini mempunyai landasan yang solid untuk menjadi organisasi belajar. Hal ini terlihat dari grand total skor 71 dari instrumen Learning Organization Profile, yang mencakup lima aspek yang diukur sebagai berikut:

  1. Dinamika Belajar, skor total 14 dengan rata-rata 2,8
  2. Transformasi Organisasi, skor total 15 dengan rata-rata 3,0
  3. Pemberdayaan Masyarakat, skor total 13 dengan rata-rata 2,6
  4. Manajemen Pengetahuan, skor total 13 dengan rata-rata 2,6
  5. Aplikasi Teknologi, skor total 16 dengan rata-rata 3,2

Dari hasil tersebut di atas menunjukkan bahwa organisasi belajar yang dilakukan di jurusan matematika sudah memiliki dinamika belajar, walaupun masih harus ditingkatkan. Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain dengan menghidupkan kembali kegiatan seminar KBI (Kelompok Bidang Ilmu) yang diselenggarakan dua kali setiap bulan.

Banyak pengertian tentang transformasi maupun organisasi. Dari berbagai pengertian tersebut transformasi dapat dikatakan sebagai suatu proses perubahan dari suatu kondisi ke kondisi lain untuk mencapai sesuatu yang lebih baik. Perubahan ini bisa bermakna luas. Keinginan berubah bisa didrive dari luar atau merupakan dorongan dalam diri untuk mencapai suatu situasi yang lebih baik. Pembukaan program studi S2 pendidikan matematika mengakibatkan perubahan dalam struktur organisasi di jurusan. Dengan demikian transformasi organisasi merupakan suatu strategi dan implementasi untuk membawa organisasi dari bentuk dan sistem yang lama ke bentuk dan sistem yang baru dengan menyesuaikan seluruh elemen ikutannya (sistem, struktur, people, culture) dalam rangka meningkatkan efektivitas organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan selaras dengan visi dan misi organisasi.

Organisasi ini sudah melakukan pemberdayaan komunitas jurusan dengan baik, namun belum semua bagian diterapkan dosen dan karyawan menuju organisasi belajar. Jurusan masih perlu memberdayakan potensi yang dimiliki oleh deluruh anggota organisasi, dan peningkatan kapasitas dalam rangka mengembangkan personal mastery. Sehingga setiap orang memiliki kinerja yang baik. Terkait dengan tujuan pemberdayaan, Sulistiyani (2004) menjelaskan bahwa tujuan yang ingin dicapai dari pemberdayaan masyarakat adalah untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. Kemandirian tersebut meliputi kemandirian berpikir, bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan..

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sudah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Dalam dunia pendidikan khususnya dalam pendidikan matematika, komputer memiliki potensi yang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Aplikasi teknologi di jurusan matematika sudah baik, hal ini dapat dilihat dari inplementasi pembelajaran berbasis MCL (Multi-Channel Learning), walaupun belum semua dosen mengimplementasikannya. Di jurusan Matematika sejak semester 091 tahun akademik 2009/2010 dalam kegiatan pembelajarannya menggunakan MCL sebagai media pembelajaran. MCL merupakan aplikasi e-learning dengan moodle yang dimodifikasi. Dengan adanya MCL ini mahasiswa dapat mengakses informasi secara mudah, fasilitas belajar yang didukung oleh multi media, sehingga memungkinkan semua anggota dapat belajar dan bekerja lebih baik

 

Kesimpulan

Cara mengembangkan organisasi belajar  dengan menggunakan teori Fifth Discipline (Peter Senge) dan model belajar organisasi (Marquardt).

Teori Fifth Discipline (Peter Senge)

  1. System Thinking
  2. Surfacing and improving mental models
  3. Fostering dialogue
  4. Nurturing personal visions
  5. Building shared vision

Model Belajar Organisasi (Marquardt)

Belajar Organisasi  sebagai suatu sistem mencakup beberapa sub system antara lain:

  1. Learning
  2. Organisasi
  3. People
  4. Knowledge
  5. Teknologi

Pertama organisasi harus berpikir secara kesisteman artinya suatu permasalahan tidak berdiri sendiri terkait satu dengan yang lain, sehingga mental model tiap orang harus ditingkatkan agar setiap orang dalam organisasi dapat berpikir sistem. Untuk itu diperlukan dialog dan benchmarking baik antar anggota organisasi, anggota organisasi dengan customer (mahasiswa),  dengan supplier (masyarakat dan pemerintah) dan dengan pengguna lulusan. Mengadakan pertemuan antar anggota organisasi, pimpinan dan stake holder untuk membuat visi dan membangun shared vision.

Peningkatan penggunaan teknologi misalnya (hotspot ditingkatkan, kelas dan ruang diskusi dilengkapi perangkat multimedia), memperbaiki perpustakaan (melengkapi buku dan meningkatkan pelayanan). Dari semua anggota organisasi harus memahami dan melaksanakan pencapaian visi dan misi bersama.

Selain itu diperlukan acara kebersamaan, misalnya acara akhir tahun seperti rekreasi bersama, family gathering, dan mungkin liburan bersama. Baik sesama intern anggota atau bersama stakeholders dan customer. Bisa juga menciptakan hari olahraga (senam) bersama, atau coffee morning, dan sebagainya.

Oleh
Ratnaningsih

Sebelas hukum Disiplin Kelima Dalam Buku The Fifth Discipline: The Art and Practice of The Learning Organization oleh Peter Senge
Terdapat sebelas hukum dalam berpikir sistem yang dikemukakan oleh Senge (1990:42-52), merupakan inti dari organisasi belajar, menurut penulis masing-masing hukum penting untuk dipahami dan diterapkan dalam berorganisasi. Kesebelas hukum tersebut adalah sebagai berikut:

1. Today’s problems come from yesterday’s “solution.”(Masalah hari ini berasal dari solusi kemarin)
Menurut Senge, seringkali kita <a bingung dengan penyebab masalah kita, ketika kita hanya perlu melihat solusi kita sendiri untuk masalah lain di masa lalu. Hal ini sering terjadi karena solusi di masa lalu sering kali tidak memperhatikan berbagai faktor yang akan menjadi masalah baru dikemudian hari. Sebagai contoh seorang penderita kanker stadium 4 menjalani operasi pengangkatan sel kanker di sebuah rumah sakit. Kemudian dia menjalani kemoterapi, yakni terapi kanker yang melibatkan penggunaan zat kimia ataupun obat-obatan yang bertujuan untuk membunuh/menghabisi sel-sel kanker yang tersisa pasca operasi dengan cara meracuninya. Kemoterapi ini digunakan sebagai standard protocol pengobatan kanker sejak tahun 1950. Racun (dari obat-obatan kemo) menyerang sel sel darah dan menyebabkan masalah baru yakni keracunan darah.

Masalah lain yang mungkin timbul adalah sistem pencernaan menjadi shock tidak terkontrol dan menyebabkan pasien mual, diare, tidak nafsu makan, (perut) kram dan berangsur melemah. Beberapa obat dapat mengelupaskan seluruh lapisan usus. Organ reproduksi terpengaruh dan dapat menyebabkan kemandulan. Otak kehilangan memori, rambut rontok, penglihatan dan pendengaran menurun. Ginjal rusak, luka muncul di mulut dan tenggorokan. Tubuh berdarah dan mudah memar serta tidak dapat melawan infeksi. Masalah yang paling ditakuti adalah kematian.

Solusi yang hanya memindahkan masalah dari satu bagian sistem yang lain sering tidak terdeteksi, karena solusi masalah yang lalu belum tuntas, sehingga mewarisi masalah baru. Untuk itu maka solusi dari masalah di atas, saat ini para ahli riset kanker telah berupaya dan berlomba lomba untuk menciptakan obat-obatan baru yang lebih efektif namun relatif memiliki efek samping yang lebih minimal bagi kualitas hidup pasien.

Di Tangerang ada ilmuwan pencipta alat pembasmi Kanker payudara dan otak namanya Warsito P. Taruno. Beliau peneliti Indonesia yang berkarir di Shizuoka University , Jepang. Kantornya di CTECH LABS (Center for Tomography Research Laboratory) Edward Technology yang bergerak di bidang teknologi penemuan di ruko kawasan Perumahan Modern Land, Tangerang. Warsito telah membuktikan keampuhan alat ciptaannya kepada kakak perempuanya Suwarni yg menderita kanker payudara Stadium IV selama sebulan. Alat tersebut bernama Breast Cancer Electro Capacity Theraphy, bentuknya dibuat mirip penutup dada yg mengandung aliran listrik statis dibagian dada. Dipakai selama 24 jam.

Pada Minggu ke-1, terlihat efek samping dari alat itu, namun efek itu tidak sampai menyiksa seperti proses kemoterapi. Hanya keringat penderita yg menggunakan alat tsb berlendir sangat bau. Urine fesesnya (kotoran) pun berbau lebih busuk, hal itu berarti menandakan bahwa sel kankernya tengah dikeluarkan. Bau busuk berasal dari sel kanker yg sudah mati dikeluarkan melalui keringat, urine feses tapi si penderita tidak merasakan sakit, hanya gerah. Temuan Warsito itu ternyata berhasil. Dalam waktu sebulan setelah pemakaian, hasil test laboratorium menyatakan bahwa kakaknya negatif kanker. Sebulan kemudian kakaknya dinyatakan bersih dari sel kanker. » Sumber berita : Jawa Pos Jum'at 30 Desember 2011.

2. The harder you push, the harder the system pushes back (Semakin keras anda mendorong, semakin keras system mendorong kembali)
Proses umpan balik yang sama telah beroperasi pada suatu bidang tidak terbatas hanya pada sistem yang lebih besar. Misalkan seseorang yang berhenti merokok hanya agar dirinya mendapatkan tambahan berat badan, dan menderita karena kehilangan citra diri tertentu sehingga ia merokok lagi untuk mengurangi stress. Mendesak lebih keras, apakah melalui intervensi yang semakin agresif atau melalui bertahannya peningkatan stress atas insting natural merupakan sesuatu yang melelahkan. Bahkan sebagai individu dan organisasi kita tidak hanya terdorong dalam umpan balik kompensasi, terkadang bangga akibat derita tersebut. Ketika usaha awal kita gagal menghasilkan peningkatan terbaru, maka kerja keras akan mengatasi semua hambatan.

3. Behavior grows better before it grows worse (Perilaku tumbuh lebih baik sebelum tumbuh lebih buruk)
Solusi jangka pendek memberi kita keleluasaan untuk melakukan perbaikan sementara, tetapi tidak menghilangkan masalah mendasar. Masalah-masalah ini akan membuat situasi lebih buruk dalam jangka panjang membuat keputusan yang kontraproduktif. Sange mengingatkan pentingnya berpikir sistem. Jangan sampai intervensi untuk solusi hanya membuat terlihat lebih baik sesaat, namun tidak mengatasi masalah mendasar. Umpan balik kompensasi datang kemudian, persoalan-persoalan jangka panjang dan kompeks justru muncul dikemudian hari, akibat dari keterlambatan dan efek dari intervensi sebelumnya.

4. The easy way out usually leads back in (Jalan keluar yang mudah biasanya mengarah pada jalan kembali)
Senge menceritakan kisah Sufi kuno yang tanpa sengaja bertemu dengan seorang pemabuk dan berlutut di bawah lampu jalan. Ia menawarkan diri untuk membantu pemabuk tersebut menemukan kunci rumahnya. Setelah beberapa menit kemudian dia bertanya dimana pemabuk itu menjatuhkan kuncinya, pemabuk itu mengatakan di luar pintu depan. Pemabuk itu mencarinya di tempat lain dengan alas an tidak ada penerangan jalan.
Kita merasakan nyaman menerapkan pemecahan masalah yang dikenali. Jalan keluar yang mudah biasanya akan mengarahkan kita pada jalan kembali. Hukum ini sering terjadi pada setiap individu, yang tidak mau keluar dari suatu masalah. Oleh karena itu dalam menyelesaikan permasalahan yang akan muncul sebagai alternative pemecahan adalah tindakan yang pernah kita lakukan. Namun ternyata apa yang pernah kita lakukan belum tentu akan menyelesaikan permasalahan yang muncul saat ini, dan bahkan sudah tidak sesuai lagi dengan kompleksitas masalahnya. Jika kita tetap melakukannya karena itu yang kita ketahui merupakan cara yang terbaik, maka kemungkinan masalahnya tidak akan terpecahkan.

5. The cure can be worse than the disease (Obatnya bisa lebih parah dari pada penyakit)
Kadang-kadang pemecahan yang mudah bukan hanya tidak efektif, terkadang menjadi kecanduan atau berbahaya. Seperti yang dicontohkan Senge tentang alkoholisme misalnya mungkin berawal dari acara minum-minum untuk sosialisasi, suatu solusi untuk masalah harga diri yang rendah atau stres akibat pekerjaan. Lambat laun pengobatan menjadi lebih buruk dibanding penyakitnya. Hal ini membuat self esteem dan stress bertambah buruk dibanding saat permulaan.

Pengalihan struktur beban menunjukkan bahwa setiap solusi jangka panjang, seperti yang diungkapkan Meadows, “memperkuat kemampuan sistem untuk memikul beban mereka sendiri”. Kadang kala hal ini sulit, oleh karena itu dalam memecahkan suatu masalah sebaiknya dipertimbangkan efek samping yang mungkin ditimbulkan dari solusi tersebut.

6. Faster is slower (Percepatan marupakan perlambatan)
Jika manajer mulai menghargai bagaimana prinsip sistem ini telah beroperasi untuk menghalangi begitu banyak intervensi favorit mereka sendiri, mereka bisa menjadi tidak bersemangat dan kecil hati. Prinsip sistem bahkan bisa menjadi alasan untuk tidak bertindak, untuk tidak melakukan apapun dibanding mencari tindakan yang mungkin bisa membuat segala sesuatu menjadi bertambah buruk. Hal ini merupakan kasus klasik dari yang dikemukakan Senge “pengetahuan yang minim akan menjadi sesuatu yang membahayakan”. Untuk implikasi yang lebih nyata dari perspektif system bukanlah tidak bertindak tetapi suatu tipe baru bersumber dalam suatu cara pemikiran baru, berpikir sistem lebih menantang dan lebih menjanjikan dibandingkan cara normal kita berhubungan dengan masalah.
Jadi segala sesuatu memiliki tingkat pertumbuhan sesuai kapasitasnya, dalam suatu organisasi. Hukum ini mengatakan, bahwa organisasi yang akan bertahan adalah organisasi yang tumbuh dan berkembang dengan wajar atau tidak instan. Artinya, terdapat pertumbuhan dan perkembangan yang berimbang, baik dari dalam organisasi maupun pengaruh dari luar. Setiap dampak yang muncul sebagai akibat perkembangan dari luar dapat diantisipasi dengan baik melalui adaptasi diri dan proaktif untuk kelangsungan organisasi.

7. Cause and effect are not closely related in time and space (sebab dan akibat tidah begitu erat berkaitan dengan waktu dan ruang)
Senge mengemukakan bahwa penting untuk mengenali interaksi sistem yang mendasari terjadinya sebab akibat tidak muncul dalam waktu dan tempat yang bersamaan. Semua masalah yang muncul sebenarnya diakibatkan oleh ketidaksesuaian antara realitas dalam sistem yang kompleks dan cara berpikir kita mengenai realitas. Oleh karena itu, yang perlu dikoreksi pertama kali adalah dugaan bahwa sebab dan akibat berhubungan dekat dengan waktu dan ruang.

Hakekat sebuah sistem antara bagian yang satu dan yang lainnya saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Oleh karena itu permasalahan pada satu bagian tidak selalu menimbulkan dampak pada bagian tersebut tetapi bisa menimbulkan dampak pada bagian sistem yang lainnya, atau bahkan berpengaruh pada sistem secara menyeluruh. Maka dalam hal ini, untuk menyelesaikan masalah jangan hanya mencari akar penyebab dari tempat munculnya gejala atau satu masalah saja, namun harus mengidentifikasi masalah atau gejala lain, kemudian dianalisa keterkaitan semua gejala tersebut dari seluruh sistem.

8. Small changes can produce big results – but the areas of highest leverage are often the least obvious (Perubahan kecil bisa menghasilkan akibat yang besar, tetapi area pengaruh yang tertinggi acapkali kurang jelas)
Berpikir sistem menunjukkan bahwa perubahan kecil yang terfokus dapat menghasilkan perbaikan yang signifikan (Senge menggunakan istilah “leverage”). Hal ini menang tidak mudah untuk menemukan di mana perubahan kecil tersebut perlu dilakukan, hal ini yang tidak selalu Nampak dengan jelas (obvious). Senge menyatakan bahwa tidak mudah menemukan perubahan yang berdampak besar namun terdapat cara mengenali untuk membuat perubahan yang besar. Langkah pertama adalah melihat struktur yang menopang atau mendasari suatu peristiwa kejadian. Dia juga menyarankan untuk menganggap bahwa memikirkan sebuah perubahan adalah sebuah proses bukan semata barang jadi.

9. You can have your cake and eat it too – but not at once (Anda dapat memiliki kue dan memakannya juga, tetapi tidak sekaligus)
Terkadang dilema yang sangat rumit dilihat dari sudut pandang sistem, bukanlah dilema dalam arti luas. Dilemma tersebut merupakan wujud dari “tembakan” dibandingkan “proses” berpikir dan tampak dalam suatu tinjauan baru yang menyeluruh, sehingga kita memikirkan dengan jelas perubahan setiap saat. Hukum ini mengungkapkan makna bahwa kita tidak dapat memperoleh dua keberhasilan dalam kesempatan yang sama. Dalam berfikir sistem, kita dapat memperoleh dua hal yang bermanfaat, namun membutuhkan waktu untuk berproses, sehingga kita tidak mendapatkan secara bersamaan.

10. Dividing an elephant in half does not produce two small elephants (membelah seekor gajah menjadi dua tidak menghasilkan dua ekor gajah kecil)
Senge menyatakan bahwa organisasi seperti makhluk hidup yang memiliki integritas. Karakternya tergantung kepada keseluruhan sistemnya. Untuk memahami sebuah isu dalam organisasi, kita harus melihat seluruh sistem yang menimbulkan isu tersebut. Senge mengilustrasikan seperti seekor gajah, jika di belah dua tidak akan menghasilkan dua gajah kecil. Maka jika kita memandang permasalahan secara sepihak dalam bagian tertentu saja tidak dapat menggambarkan permasalahan yang sebenarnya.
Betapapun kecilnya sebuah batas sistem organisasi, asal isu yang dilihat sangat menentukan bagi kehidupan organisasi, sekecil apapun sistem tersebut maka hal itu sudah memadai sebagai sebuah systems thinking. Hal ini memang tidak mudah karena kebanyakan organisasi justru menghalangi orang melihat interaksi yang penting di dalam sistemnya dengan mengedepankan pembagian struktur organisasi yang kaku.

11. There is no blame (tidak menyalahkan)
Berpikir sistem menunjukkan pada kita bahwa tidak ada orang luar. Manusia cenderung menyalahkan keadaan sekitar untuk masalahnya sendiri. Senge menyatakan bahwa kita cenderung menyalahkan orang lain atau keadaan di luar sana atas masalah yang kita hadapi. Dalam systems thinking tidak ada istilah orang atau keadaan luar, yang ada hanyalah kita. Obatnya ada pada hubungan kita dengan musuh kita yakni kita sendiri. Hukum di atas menggambarkan bahwa permasalahan tidak dapat dilihat dari satu sisi saja melainkan terkait dengan berbagai faktor dalam sebuah sistem. Senge menyebutnya sebagai cornerstone alias batu pertama untuk Systems thinking. Mengingat hukum tersebut terkait dengan banyaknya faktor yang harus dipertimbangkan dalam memahami sebuah fenomena, sehingga sering disebut Complexity Laws.

Di Balik Collapse-nya Bank Century (Sebuah Analisis Learning Organization) Oleh Muntholi’ah dan Ratnanigsih

Mengamati perusahaan/organisasi yang bangkrut, kami tertarik untuk mengulas tentang bank Century yang mungkin di mata dan telinga pembaca sudah tidak asing lagi. Mengapa bank Century bisa mengalami kebangkrutan? Faktor apa saja yang menyebabkan?. Penulis akan coba mengulas sejauh kemampuan penulis menafsirkan berdasarkan sudut pandang Organisasi Belajar (Learning Organization) Penyelamatan bank Century pada 21 November 2008 tahun lalu (diakibatkan dampak krisis ekonomi global) oleh Pemerintah melalui Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Baca entri selengkapnya »

Learning Organization (Organisasi Pembelajar)
Organisasi belajar atau organisasi pembelajaran adalah suatu konsep dimana organisasi dianggap mampu untuk terus menerus melakukan proses pembelajaran mandiri (self leraning) sehingga organisasi tersebut memiliki ‘kecepatan berpikir dan bertindak’ dalam merespon beragam perubahan yang muncul. Menurut Senge (1990), organisasi belajar adalah organisasi dimana anggota-anggotanya terus-menerus mengembangkan kapasitasnya guna menciptakan hasil yang benar-benar mereka inginkan, dimana pola-pola berpikir baru dan berkembang dipupuk, dimana aspirasi kelompok diberi kebebasan, dan anggota-anggotanya secara terus menerus belajar mempelajari (learning to learn) sesuatu secara bersama. Jadi dalam sebuah organisasi yang memiliki kinerja dan tujuan, didalamnya pasti memiliki hubungan dan proses yang diusahakan berkesinambungan(system thinking) antara anggota dengan anggota, anggota dengan tim, dan antar tim.
Pedler, Boydell dan Burgoyne mendefinisikan bahwa organisasi pembelajaran adalah “Sebuah organisasi yang memfasilitasi pembelajaran dari seluruh anggotanya dan secara terus menerus mentransformasikan diri”. Menurut Lundberg (dalam Dale, 2003) menyatakan bahwa pembelajaran adalah “suatu kegiatan bertujuan yang diarahkan pada pemerolehan dan pengembangan keterampilan dan pengetahuan serta aplikasinya”. Menurut Kerka (1995) yang paling konseptual dari learning organization adalah asumsi bahwa ‘belajar itu penting’, berkelanjutan, dan lebih efektif ketika dibagikan dan bahwa setiap pengalaman adalah suatu kesempatan untuk belajar.

Baca entri selengkapnya »

Ranking 23 : “Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan”

Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya.

Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar,namun anak kami ternyata menerimanya dengan senang hati.

Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji “Superman cilik” di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja.
Baca entri selengkapnya »

Seseorang bercerita kepada saya tentang kisah keluarganya. Berikut saya  ringkaskan penuturannya:

“Cukup lama aku berusaha meyakinkan isteriku, bahwa aku harus menikah lagi. Sangat banyak alasan logis yang mendorongku untuk mengambil keputusan itu. Bagiku, itu bukan keputusan yang mudah. Aku sangat mencintai isteriku, namun aku juga tidak bisa melawan keinginan yang sangat kuat untuk segera menikah lagi.

Bukan, bukan karena aku sudah jatuh cinta kepada seorang perempuan. Aku bahkan tidak mempunyai calon isteri baru, karena itu tidak terlalu penting bagiku. Yang aku perlukan hanya kerelaan isteriku untuk mengerti dan memahami keputusanku itu. Aku berpikir rasional, bahwa jika aku menikah lagi, tidak boleh mencederai keindahan hubungan dengan isteri pertama dan anak-anakku.
Baca entri selengkapnya »

Diantara usia 5 sampai 12 tahun, berteman merupakan salah satu bagian terpenting di masa pertengahan kanak-kanak – sebuah ketrampilan sosial yang akan terus melekat di sepanjang hidupnya. Secara perkembangan, anak-anak usia sekolah sudah siap untuk membentuk hubungan yang lebih kompleks. Mereka mulai mampu mengkomunikasikan baik perasaan maupun pikirannya, dan mereka dapat mengerti konsep waktu dengan lebih baik – lampau, saat ini dan masa datang. Di usia ini mereka tidak lagi harus terus bersama keluarga atau mementingkan diri sendiri, tetapi mulai mengandalkan teman sebaya untuk bersahabat, menghabiskan lebih banyak waktu dengan teman-teman dibandingkan ketika mereka masih berada di usia pra sekolah. Hari demi hari mereka lewati dengan saling berbagi kesenangan dan kesusahan masa kanak-kanak. Baca entri selengkapnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.